Sejak hari Selasa, 20 Oktober 2009 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kendal menyelenggarakan Festival Seni Pertunjukan Rakyat IV (FSPR IV) bertempat di lapangan Bebengan Kecamatan Boja yang dikuti oleh Tim Kesenian terbaik dari 20 Kecamatan se-Kabupaten Kendal. Menurut Samuji fungsionaris pengurus harian DK-2 Kendal peserta Festival adalah mereka group-group kesenian yang berbasis pada seni audio visual yang bercirikan kerakyatan yang mewakili wilayah kecamatan masing-masing se-Kabupaten Kendal, ditambahkan pula oleh Itos Budi Santoso,S.Pd,M.Pd selaku Ketua Umum bahwa peserta adalah group kesenian dan keberadaannya diakui dan terdaftar di Seksi Kesenian dan Kebahasaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kendal dan telah mendapatkan piagam pengesahan group.
Sesuai jadwal FSPR IV akan berakhir pada hari Sabtu, 24 Oktober 2009 dengan ditutup pagelaran Wayang Kulit oleh Pepadi Kabupaten Kendal dan sekaligus pengumuman dan pembagian hadiah dan uang pembinaan bagi 6 peserta FSPR IV yang meraih predikat kategori Tata Rias dan Busana Terbaik, Tata Gerak (Koreografer) Terbaik, Tata Musik Iringan Terbaik, Penyaji Terbaik, Penyaji Kreatif, Penyaji Favorit. Pada penampilan hari Kedua Group Kuda Kepang Panji Budoyo dari Surugajah Desa Ngargosari mampu menghipnotis penonton, hal ini tampak dari antusias penonton yang selalu memberi aplous dari penampilan Panji Budoyo walau diguyur hujan lebat pemain dan penonton rela hujan-hujanan.
Menurut Trubus Triyantono,S.Pd ketua DK-2 Komisariat Kecamatan Sukorejo yang banyak mendapat selamat dan pujian dari penonton menuturkan bahwa keikutsertaan di FSPR IV semata hanya keinginan melestarikan budaya leluhur dan mewadahi apresiasi generasi muda, makanya peserta seluruhnya masih duduk di SD dan SMP/MTs. Ketika di desak persiapan, Trubus hanya menjawab tidak ada persiapan khusus semuanya mengalir begitu saja karena paretisipasi dan kepedulian dari pihak sekolah, komite, perangkat, masyarakat, kepala desa dan pengurus DK-2 Komisariat kec. Sukorejo. Berikut ini sinopsis dari tampilan panji Budoyo :
Pada jaman dahulu kala, kuda hanya dimiliki oleh para petinggi kerajaan atau saudagar kaya, sedangkan kaum jelata atau budak hanyalah pelayan tuannya, mereka tiap hari hanya mengurusi kuda piaraan tuannya sejak mempersiapkan makan, membersihkan kandang hingga kebutuhan lainnya, para pekatik tersebut dengan sabar dan kasih sayang selalu merawat kuda piaraan tuannya. Sebagai manusia naluri memiliki menjadi idaman namun keadaan tidak memungkinkan, untuk memujudkan impiannya dibuatlah rekayasa imajinatif karakter sang pekatik……. (Juragan, Pekatik hingga Kuda adalah sebuah simbiosis mutualisma yaitu hubungan kerjasama saling menguntungkan, dimana mereka saling menyadari akan kebutuhan, tugas dan kewajibannya sendiri ) cerita ini diawali dari :
Enam Gunungan yang dikiaskan sebagai gambaran dunia dan penghuninya yang selalu berubah dalam menjalani kehidupan lika-liku dan tidak menentu. Alam semesta yang ramah tapi menakutkan dengan belantara pepohonan di satu sisi, dan gedung pencakar langit di sisi lainnya atau kemegahan dan keagungan serta kemeriahan yang ditebarkan oleh kerajaan untuk rakyatnya.
Pekatik dengan keranjangnya kami tampilkan untuk menggambarkan bentuk kerjasama dan tanggung jawab pekatik, sebagai wujud hormat, rasa syukur dan tanggung jawab moral dan kinerja mereka dalam memenuhi kebutuhan kuda-kudanya dan melayani tuannya dengan tulus iklas melaksanakan tugas kesehariannya, bekerja dengan baik dan benar.
Sedangkan Kuda Lumping sebagai imajinatif karakter yang dimiliki para pekatik sebagai tuannya dengan kuda, begitu gagah perkasa, dengan berseragam layaknya seorang pangeran, bersenjatakan tombak, keris dan bertelanjang dada. Ibarat para taruna tamtama dan wadyabala mereka bersama mengadakan gladen untuk menjaga kerajaan dari rongrongan musuh demi kemakmuran, kejayaan kerajaan dan kedamaian rakyatnya.
Rabu, 21 Oktober 2009
Langganan:
Komentar (Atom)
