Jumat, 26 September 2008

LAPORAN


 
LAPORAN KEGIATAN
KOMISARIAT DEWAN KESENIAN KECAMATAN SUKOREJO
PERIODE 2002-2007
 
 
 
A.  Pendahuluan
            Kecamatan Sukorejo merupakan salah satu kawasan budaya di Kabupaten Kendal yang memiliki beragam Kesenian baik kesenian tradisional maupun modern yang mempunyai nilai dan berpotensi  untuk dilestarikan dan dikembangkan. Untuk mewujudkan hal tersebut harus dilaksanakan secara konsepsional, sistematik dan berkelanjutan agar dapat dijadikan pilar budaya dan bersinergi dengan kemajuan teknologi dan komunikasi yang semakin maju. Kehadiran Dewan Kesenian Kendal (DK-2) merupakan jawaban  dan perwujudan dari jati organisasi kemasyarakatan yang mengkonsentrasikan diri di bidang kesenian yang bersifat integratif, akomodatif dari semua aspek seni yang tumbuh dan berkembang di masyarakat dengan fungsi dan tujuan sbb:
1. Sebagai wadah berhimpun bagi seniman dan budayawan dengan tanpa  membedakan asal-usul, suku, golongan agama dan aliran kepercayaan.
2. Sebagai wahana koordinasi, dan komunikasi seni bagi seniman budayawan.
3. Sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan apresiasi seni masyarakat.
4. Sebagai sarana untuk mengaktualisasi cipta, rasa, dan karsa seni budaya masyarakat bagi terwujudnya nilai-nilai estetika dalam kehidupan bermasyarakat.
 
                Untuk mencapai fungsi dan tujuan tersebut perlu dibentuk Komisariat Dewan Kesenian Kecamatan Sukorejo yang berperan memelihara, melestarikan dan mengembangkan kehidupan berkesenian dan berkebudayaan melalui para seniman dan budayawan bersama-sama dengan pemerintah Kecamatan Sukorejo, disamping mewujudkan tatanan kehidupan masyarakat seniman budayawan yang dinamis, produktif, sejahtera yang bercitra seni adi luhung yang dapat menunjukkan identitas jati diri Kecamatan Sukorejo.
 
B. Kepengurusan
                Kepengurusan Komisariat Dewan Kesenian Sukorejo Periode 2002-2007   adalah sbb:
 
Ketua 1
Trubus Triyantono,S.Pd
Ketua 2
Asrori
Sekretaris
Soegito
Pemb. Umum
Dini
Yono Sumardjo
 
C. Kegiatan Komisariat
      Untuk mencapai tujuan yang diinginkan Komisariat Dewan Kesenian Kecamatan Sukorejo melakukan usaha-usaha dengan kegiatan sebagai berikut :
 
1. Meningkatkan aktifitas berkesenian dan apresiasi masyarakat
    a. Mendorong dan memacu kreatifitas para seniman, group kesenian di  Kecamatan Sukorejo melalui penyelenggaraan kegiatan pentas seni dengan mengajukan permohonan bantuan ke Dewan Kesenian Kendal (DK-2), seperti :
* Pentas Seni Kuntulan di Plalar Desa Bringinsari tahun 2005
    * Lomba Campur Sari di GOR Panembahan Agus Sakti tanggal 26   Desember 2005
    * Lomba Musik Anarkob di Bunderan Sukorejo tanggal 13 Pebruari 2006
    * Pagelaran Persahabatan Kuda Kepang di Purwosari tanggal 21 Juni 2006
    * Festival Rebana di GOR Panembahan Agus Sakti yang diselenggarakan oleh Studio One
    * Festifal Rebana yang diselenggarakan oleh IPPNU Sukorejodi Bunderan
 
2.  Membantu peningkatan kualitas kesenian
a. Mengupayakan bantuan secara teknis pada group-group kesenian    dengan menghadirkan anggota Komisariat sesuai bidang keahlian seperti : memainkan perangkat gamelan, garapan gerak kuda kepang, ataupun musik lain yang dilebur dalam satu latihan bersama.
b. Menghadiri undangan dari group kesenian yang menyelenggarakan pementasan seni, diantaranya :
* Pementasan Kuda Kepang dan Kuntulan di Plalar Desa Bringinsari
* Pementasan Kuda Kepang di Bantengsari Desa Purwosari
* Pementasan Festival Rebana di Sukorejo
* Pementasan Kuda Kepang di Surugajah Desa Ngargosari
* Pementasan Lengger di Dayunan Desa Pesaren
* Gelar Budaya Lais di Bunderan
* Parade Musik Lagu Kenangan lagu-lagu Koes Plus di halaman Polsek Sukorejo.
c. Bekerja sama dengan Pemerintah Desa/ Kecamatan/ Panitia   Lomba, seperti :
* Menjadi Juri Rebana di Curug Sewu
* Menjadi Juri Lomba Parade Dangdut
* Menjadi Juri Lomba Paduan Suara, Vokal dan baca Puisi yang diadakan oleh Angkatan 45 dan Studio Agung
* Menjadi Juri Festifal Kuda Lumping di Sukorejo dan Plantungan
* Menjadi Panitia 17-an Desa Sukorejo dan Kecamatan Sukorejo.
 
3. Mengangkat kesetaraan berkesenian
* Menginfentarisasi Kesenian yang ada dan berkembang di kecamatan Sukorejo.
*  Menginfentarisasi serta mengusulkan tokoh, pamong, pelaku seni di kecamatan Sukorejo untuk mendapatkan penghargaan seni di Kabupaten Kendal melalui DK-2 Kendal.
*  Mengirimkan Seni Tari untuk kegiatan 17-an Desa Sukorejo tahun 2005
*  Menggelar Tari Masal bekerjasama dengan Cabang Dinas P dan K Sukorejo dan Abri Masuk Desa di desa Trimulyo.
 
4. Keorganisasian
* Bekerja sama dengan Polsek Sukorejo yang berhubungan dengan ijin pementasan kesenian yang diadakan oleh group-group kesenian.
* Menghadiri rapat-rapat yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Kendal secara periodik.
* Menyelenggarakan rapat intern pengurus Komisariat Dewan Kesenian kecamatan Sukorejo.
* Memberi penyuluhan tentang kartu seniman dan piagam.
 
5. Administrasi
* Menyelenggarakan dan mengagendakan surat menyurat
* Menyusun Program dan Laporan Kegiatan Komisariat Dewan Kesenian Kecamatan Sukorejo.
 
6. Inventaris
* Stempel dan bantalan
* Kertas
* Buku Administrasi organisasi
 
D. Penutup
 
      Kami menyadari bahwa keberadaan Komisariat Dewan Kesenian Kecamatan Sukorejo belum begitu Populis tapi setidak-tidaknya telah memberi manfaat bagi masyarakat pecinta seni. Dengan segala kekurangan dan keterbatasan tentu saja kiprah kami selaku Pengurus Komisariat Dewan Kesenian Kecamatan Sukorejo belum bisa mewujudkan semua program-program yang dapat memberikan konstribusi melalui aktifitas dan apresiasi kesenian , serta belum sepenuhnya dapat memberikan kepuasan bagi para seniman, pemerintah dan masyarakat .
      Ibarat tak ada gading yang tak retak apabila dalam menyampaikan laporan kegiatan terdapat kekurangan dan kesalahan, kami pengurus Komisariat Dewan Kesenian Kecamatan Sukorejo mohon maaf sebesar-besarnya.
 
    Sukorejo, 18 April 2007
 
 

Kamis, 25 September 2008

BUSANA JAWA

BusanaJawa

Seni busana jawa bersumber pada seni busana yang ada dikaraton ,dibedakan menjadi dua jenis, yaitu (1) seni busana untuk putra dan (2) seni busana untuk putri. Dari dua jenis seni busana ini pembahasaannya sebagai berikut.  
a.      Seni Busana Putra
Busana putra bagi karaton Surakarta dapat dikatakan sebagai pengagemen kejawen Surakarta atau juga disebut busana Jawi Jangkep. Berdasarkan keperluaannya, busana Jawi Jangkep dibedakan menjadi dua yaitu :
Pakaian harian (padintenan) warna bukan hitam
Pakaian bukan harian (sanes padintenan) yaitu pakaian untuk upacara dan warnanya selalu hitam.
Mengenai busana ini Ingkang Sinuhun Paku Buwana IX menyatakan sebagai berikut:
Nyandang nganggo iku dadya sarana hamengku mangusa jaba jero. Marmane pantese panganggonira. Trep pangentraping panganggon, cundhukna kalawan kahaning badanira apadene pangatira.
Berbusana itu menjadi sarana menjaga manusia luar dan dalam. Sesuai pengetrapan busana, cocokkan dengan keadaan dan pangkat.
Berdasarkan penrnyataan diatas bahwa busana karaton Surakarta dapat mencerminkan keadaan dan pangkat bagio yang memakainya. Sebagai contoh bagio Abdi dalem yang belum berpangkat bupati sepuh tidak diperkenankan memakai sikepan.
Adapun yang menjadi kelengkapan busana Jawi Jangkep, khusus bagi busana laki-laki adalah sebagai berikut :
Destar (Ikat belangkon) dan kuluk
Rasukan krowok artinya berlubang dibelakang sebagai tempat keris, yang jenisnya ada 5 macam :  
Atelah               : kancing baju ditengah dari leher ke bawah
Beskap             : kancing baju di kanan dan kiri
Takwa              : seperti beskap yang bagian bawah lancip memanjang
Langenharjan    : seperti beskap tetapi di depan seperti jas-bukak
Sikepan            : seperti atelah tetapi kancing baju tidak dimasukkan dan didalam memakai rompi berwarna putih.
Sabuk : semacam setagen
Epek, timang, dan lerep : semacam ikat pinggang
Nyamping : kain
Wangkingan atau keris
Lambaran suku atau selop/canela
Perlengkapan Busana Jawi Jangkep bagi kerabat karaton ada aturan yang disesuaikan dengan kedudukan dan kepangkatan. Adapun aturan yang dimaksud secara garis besar antara lain sebagai berikut :
1.      Dhestar, kuluk
Bagi abdi dalem jajar sampai dengan bupati dhestarnya harus menggunakan kuncung dan mondholannya cekok. Akan tetapi bagi tiya Nginggil sampai dengan Pangeran Putra dhestarnya tidak memakai kuncung dan mondholannya jebehan. Kuluk untuk keperluan khusus misalnya untuk Raja dan Pengantin Karaton.
2.      Rasukan Krowok
Bagi abdi dalem jajar sampai dengan bupati, Santana Panji dan Riyo Ngandhap busananya atelah, akan tetapi bagi santana dalem Riyo Nginggil Pangeran Wayah dan Pangeran.
3.      Sabuk
Khusus sabuk yang tergolong cindhe hanya untuk raja.
4.      Epek
Untuk para pangeran putra, pangeran sentana dan Riyo Nginggil diperkenankan memakai sabuk yang bermotif untu walang berbordir, dan abdi dalem selain itu epeknya polos.
5.      Nyamping
Khusus kain yang bermotif lereng hanya boleh dipakai oleh pangeran wayah dan pangeran putra. Bagi abdi dalem motif lereng tersebut tidak diperkenankan memakainya.
Busana Jawi Jangkep yang merupakan tradisi Jawa ini mencerminkan adanya suatu pandangan bahwa: Ajining raga ana busana yang berarti ‘harga diri seseorang dapat tercerminkan pada busana’. Hal yang demikian diperhatikan dalam lingkungan karaton. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa masalah busana juga termasuk dalam tatakrama.
Untuk busana Jawa ini memiliki prospek yang cerah, sebab bagi masyarakat Jawa khususnya Surakarta, dalam kegiatan upacara adat misalnya upacara perkawinan ada kecenderungan untuk memakai Jawa dan bagi masyarakat ada kebanggaan untuk memakai busana itu. Keadaan yang demikian dapat dikatakan sebagai usaha melestarikan  kebudayaan Karaton Surakarta Hadiningrat.
Sehubungan dengan kelengkapan busana yang telah disebutkan, di Karaton Surakartaada beberapa model busana. Model busana itu merupakan sebuah kostum yang menunjukkan identitas pemakainya.
Adapun model busana yang dimaksud adalah sebagai berikut.  
1.  Cothan
2.  Chotan Sikepan Cekak
3.  Sikepan Cekak
4.  Prajuritan Truno Kembang
5.  Beskap  
 
6.  Beskap Kembang
7.  Takwa
8.  Dhotdhot Gedhedheran Sikepan Ageng
9.  Langenharjan
10.Busana Pengantin Putra Basahan.  
 
Model-model busana tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.                  Putra Cothan
Busana ini dikenakan oleh para putra raja sebelum mereka dewasa pada setiap upacara Pasowanan. Busana ini tanpa baju/bagian atas. Mereka mengenakan pakaian batik berpola parang seperti Parangbarong, ikat pinggang lebar, gesper ikat pinggang dan kalung ulur.
2.                  Busana Cothan Sikepan Cekak
Busana ini dikenakan oleh para pangeran yang memakai Sikepan berwarna putih, rompi putih di bagian dalam, kalung, tanpa dhestar. Busana ini dikenakan untuk mengiringi pengantin pria.
3.                  Pangeran Sikepan Cekak
Busana ini dikenakan oleh putra raja yang dinobatkan menjadi pangeran. Busana ini juga dikenakan dalam upacara untuk memperingati ulang tahun penobatan sang raja dan dalem upacara pernikahan para putra dan putri raja. Busana ini terdiri atas dhestar, beskap, sikepan dengan rompi, lencana di bagian dalam, kalung ulur, pakaian batik pola parang, ikat pinggang, ikat pinggang lebar, gesper ikat pinggang dan boro.
4.                  Pangeran Prajuritan : Truno Kembang
Dalam kesempatan parade serdadu Karaton, para pangeran mengenakan busana Prajuritan. Busana ini terdiri atas kuluk, sikepan cekak dengan rompi di bagian dalamnya. Busana prajuritan ini dilengkapi dengan kalung ulur, ikat pinggang, kain celup, ikat pinggang lebar, gesper ikat pinggang keris dan anggar, pantalon panjen dan cancutan.
5.                  Pangeran Beskap Kembang
Busan aini dikenakan oleh para pangeran. Busana Beskap Kembang dilengkapi dengan dhestar biru, ikat pinggang, ikat pinggang lebar, gesper ikat pinggang. Busana ini dikenakan pada upacara Pasowanan pada malam hari.
6.                  Putra Dhodhot Gedhedheran Sikepan Ageng
Dhotdhot Gedhedheran dikenakan oleh para pangeran dalem kesempatan Festival Grebeg Mulud. Mereka juga mengenakan Kuluk Mathak, Sikepan Ageng yang disulam dengan benang keemas-emasan, selop, keris, ikat pinggang, ikat pinggang lebar, gesper ikat pinggang, kalung ulur, pantalon celup dengan Dhodhot Ageng Gedhedheran. Busan aini juga dikenakan dalam upacara-upacara pernikahan.
7.                  Putra Langenharjan
Menurut sejarah, busana Langenharjan diciptakan oleh Mangkunegaran VII ketika beliau menghadap Sri Susuhunan Paku Buwana IX di Pesanggrahan Langenharjan. Nam aLangenharjan diberikan oleh Sri Susuhunan Paku Buwana IX pada busana yang diciptakan oleh Sri Paduka Mangkunegara. Dewasa ini busana Langenharjan dikenakan oleh pengantin pria selama upacara Sang-keran. Dalam tradisi perkawinan Jawa, busana ini dikenakan oleh pengantin pria dan dikenal sebagai busana Langenharjan.
b.      Seni Busana Putri
Busana Putri bagi karaton Surakarta merupakan busana tradisional Jawa yang mencerminkan putri karaton. Istilah putri karaton ini mengisyaratkan adanya makna keibuan, keanggunan, kelembutan, kesopanan, dan sejenisnya, dan bukanlah mengisyaratkan makna yang sebaliknya. Sama halnya dengan busana putra, busana putri juga disesuaikan dengan kedudukan atau kepangkatan bagi pemakainya.  
Kelengkapan busana putri karaton Surakarta adalah sebagai berikut :  
1. Ungkel atau sanggul
2. Kebayak
3. Semekan  
 
4. Setagen
5. Januran dan Slepe mirip epek dan timang (busana putra)
6. Kain panjang (sinjang dan dhodhotan) atau nyamping  
 
Kelengkapan busana tersebut pemakainya disesuaikan dengan umur, kepangkatan dan keperluannya. Sehubungan dengan hal tersebut di karaton Surakarta dikenal adanya jenis atau model busana putri sebagai berikut :  
1. Sabuk Wala
2. Sabuk Wala Kebayak Cekak
3. Dhodhot Ageng Ngumbar Kunca  
 
4. Semekan kancing Wingking
5. Pincung Kencong
6. Bedhaya Dhodhot Klembrehan  
 
7. Kebaya Cekak
8. Kebaya panjang
9. Busana pengantin Putri Basahan  
 
 
 
 
 
Model-model busana tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.           Putri Sabukwala
Busana ini terdiri atas pakaian pola dringin dengan slepe, ukel welah sawelit, cunduk jungkat, cunduk mentul, kalung, anting-anting, gelang dan cincin. Busana ini juga dikenakan untuk mengiringi pengantin wanita.
2.           Putri Sabukwala Kebaya Cekak
Busana ini dikenakan oleh para putri raja pada upacara tetesan dan supitan. Para putri raja mengenakn busana ini dengan pakaian Kebaya Cekak gesper penuh hiasan, slepe, ukel welah sawelit, dilengkapi dengan kokar, cunduk Jungkat, cunduk mentul dengan asesoris.
3.           Putri Dhodhot Ageng Ngumbar Kunca
Dalam kesempatan Festival Garebeg Maulud di karaton, para putri raja yang sudah menikah mengenakan busana Ngumbar Kunco, konde Ukel Ageng yang dihiasi dengan kembang Banguntulak, dilengkapi dengan borokan, untaian bungan melati, cunduk jungkat, anting-anting berbentuk Brumbungan, kalung, gelang, kain batik celup. Diatasnya dikenakan selendang, ikat pinggang, pending dan slepe.
4.           Putri Semekan Kancing Wingking
setiap hari Senin dan Kamis ketika para putri raja menghadap raja, mereka mengenakan busana Semakan Kancing Wingking dan pakaian batik pola parang, misalnya: parang Baris dengan busana semekan pola dringin yang bagian belakangnya dikancing dengan peniti. Konde Ukel Ageng mereka dihiasi daun pandan. Busana ini dikenakan oleh para putri raja ke suatu tempat yang disebut Sangkeran. Untuk upacara pernikahan, mereka mengenakan kalung, gelang, anting-anting, cunduk jungkat, cincin.
5.           Putri Pinjung Kencong
Busana ini dikenakan oleh para putri raja yang telah berusia lebih dari 8 tahun, sebelum mereka menginjak dewasa. Para putri raja mengenakan pakaian celup, mekak, dan Ukel Welah Sawelit dilengkapi dengan kokar cunduk jungkat, cunduk mentul dan perhiasan lengkap.
6.            Bedhaya Dhodhot Klembrehan (Ampil-ampil Miyos Bakda)
Busana ini dikenakan oleh para pembantu wanita dari pejabat tinggi istana selama upacara besar karaton. Mereka mengiringi raja dan membawa harta milik raja.
7.            Putri Kebaya Cekak
Dalam kesempatan mendampingi raja untuk menyambut tamu-tamu penting di Karaton, para putri raja yang masih lajang dan sedang tumbuh dewasa mengenakan kebaya Cekak yang disulam dengan benang keemas-emasan, dilengkapi dengan konde ukel ageng yang dihiasi dengan daun pandan, mengenakan pakaian batik berpola parang (seperti Parangkusumo), kalung, anting-anting, cunduk jungkat, gelang.
8.            Putri Kebaya Panjang
Dalam kesempatan Pasowanan besar, para putri raja yang telah menikah mengenakan Kebaya Panjang, konde berbentuk ukel ageng banguntulak, dihiasi bunga melati, borokan asesoros dan cunduk jungkat. Kebaya Panjang ini dilengkapi dengan setumpuk bros, kalung, anting-angting dan gelang. Busana ini juga dikenakan dalam upacara pernikahan.  
c.       Busana Pengantin  
1   Busana Pengantin Pria
Pengatin pria mengenakan pantalon merah dengan pakaian pola alas-alasan, ikat pinggang lebar, gesper ikat pinggang berbentuk biji jagung, kalung ulur dan mengenakan Kuluk Mathak.  
 

2  Pengantin Wanita
Pengantin wanita mengenakan pakaian berwarna merah, pada bagian luar mengenakan dodot berpola alas-alasan, konde berbentuk mangkok terbalik dengan krukup, dihiasi dengan kembang melati berbentuk biji ketimun, cunduk metul, asesoris, borokan dan beberapa untaian kembang melati.  

Ruwatan

RUWATAN Adalah Tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian, atas dosa/kesalahannya yang  diperkirakan  bisa berdampak kesialan didalam hidupnya
Tradisi "upacara /ritual ruwatan" hingga kini masih dipergunakan orang jawa, sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. Dalam cerita "wayang" dengan lakon Murwakala pada tradisi ruwatan di jawa ( jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita jawa kuno, yang isi pokoknya memuat masalah pensucian, yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda, agar menjadi suci kembali, atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit yang mengambil tema/cerita Murwakala.

Dalam tradisi jawa orang yang keberadaannya mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa, maka untuk mensucikan kembali, perlu mengadakan ritual tersebut. Menurut ceriteranya, orang yang manandang sukerto ini, diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri DewiUma, yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut, akhirnya menjelma menjadi raksasa, yang dalam tradisi pewayangan disebut "Kama salah kendang gumulung ". Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan, oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Atas dasar inilah yang kemudian dicarikan solosi ,agar tak termakan Sang Batara Kala ini diperlukan ritual ruwatan. Kata Murwakala/ purwakala berasal dari kata purwa (asalmuasal manusia) ,dan 
pada lakon ini, yang menjadi titik pandangnya adalah kesadaran : atas ketidak sempurnanya diri manusia, yang selalu terlibat dalam kesalahan serta bisa berdampak timbulnya bencana (salah kedaden).
Untuk pagelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala biasanya diperlukan perlengkapan sbb :
Alat musik jawa (Gamelan)
Wayang kulit satu kotak (komplit)
Kelir atau layar kain
Blencong atau lampu dari minyak
Selain peralatan tersebut diatas masih diperlukan sesajian yang berupa:
Tuwuhan, yang terdiri dari pisang raja setudun, yang sudah matang dan baik, yang ditebang dengan batangnya disertai cengkir gading (kelapa muda), pohon tebu dengan daunnya, daun beringin, daun elo, daun dadap serep, daun apa-apa, daun alang-alang, daun meja, daun kara, dan daun kluwih yang semuanya itu diikat berdiri pada tiang pintu depan sekaligus juga berfungsi sebagai hiasan/pajangan dan permohonan. Dua kembang mayang yang telah dihias diletakkan dibelakang kelir (layar) kanan kiri, bunga setaman dalam bokor di tempat di muka dalang, yang akan digunakan untuk memandikan Batara Kala, orang yang diruwat dan lain-lainya.
Api (batu arang) di dalam anglo, kipas beserta kemenyan (ratus wangi) yang akan dipergunakan Kyai Dalang selama pertunjukan.
Kain mori putih kurang lebih panjangnya 3 meter, direntangkan dibawah debog (batang pisang) panggungan dari muka layar (kelir) sampai di belakang layar dan ditaburi bunga mawar dimuka kelir sebagai alas duduk Ki Dalang, sedangkan di belakang layar sebagai tempat duduk orang yang diruwat dengan memakai selimut kain mori putih.
Gawangan kelir bagian atas (kayu bambu yang merentang diatas layar) dihias dengan kain batik yang baru 5 (lima) buah, diantaranya kain sindur, kain bango tulak dan dilengkapi dengan padi segedeng (4 ikat pada sebelah menyebelah).
Bermacam-macam nasi antara lain :
Nasi golong dengan perlengkapannya, goreng-gorengan, pindang kluwih, pecel ayam, sayur menir, dsb.
Nasi wuduk dilengkapi dengan; ikan lembaran, lalaban, mentimun, cabe besar merah dan hijau brambang, kedele hitam.
Nasi kuning dengan perlengkapan; telur ayam yang didadar tiga biji. Srundeng asmaradana.
Bermacam-macam jenang (bubur) yaitu: jenang merah, putih, jenang kaleh, jenang baro-baro (aneka bubur).
Jajan pasar (buah-buahan yang bermacam-macam) seperti : pisang raja, jambu, salak, sirih yang diberi uang, gula jawa, kelapa, makanan kecil berupa blingo yang diberi warna merah, kemenyan bunga, air yang ditempatkan pada cupu, jarum dan benang hitam-putih, kaca kecil, kendi yang berisi air, empluk (periuk yang berisi kacang hijau, kedele, kluwak, kemiri, ikan asin, telur ayam dan uang satu sen).
Benang lawe, minyak kelapa yang dipergunakan untuk lampu blencong, sebab walaupun siang tetap memakai lampu blencong.
Yang berupa hewan seperti burung dara satu pasang ayam jawa sepasang, bebek sepasang.
Yang berupa sajen antara lain : rujak ditempatkan pada bumbung, rujak edan (rujak dari pisang klutuk ang dicampur dengan air tanpa garam), bambu gading linma ros. Kesemuanya itu diletakan ditampah yang berisi nasi tumpeng, dengan lauk pauknya seperti kuluban panggang telur ayam yang direbus, sambel gepeng, ikan sungai/laut dimasak anpa garam dan ditempatkan di belakang layar tepat pada muka Kyai Dalang.
Sajen buangan yang ditunjukkan kepada dhayang yang berupa takir besar atau kroso yang berisi nasi tumpeng kecil dengan lauk-pauk, jajan pasar (berupa buah-buahan mentah serta uang satu sen. ). Sajen itu dibuang di tempat angker disertai doa (puji/mantra) mohon keselematan.
Sumur atau sendang diambil airnya dan dimasuki kelapa. Kamar mandi yang untuk mandi orang yang diruwat dimasuki kelapa utuh.

Selesai upacara ngruwat, bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau , kedelai hitam, ikan asin, kluwak, kemiri, telur ayam dan uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita citakan.
 

WAROKAN


Dan kali ini, Warok Suromenggolo harus mengakui jika dirinya bukan satu-satunya orang yang mesti ditakuti. Untuk disegani saja tidak. Dan sumber persoalannya hanya karena derajat dan perempuan.

Hanya karena tidak ingin anaknya, Cemplok Warsiyah dicintai oleh Gento. Dan karena Gento juga tidak ingin perasaan cintanya bertepuk sebelah tangan, dia kemudian menempuh jalan kekerasan demi legalitas cintanya.

Suromenggolo tidak terima atas perlakuan Gento yang kasar terhadap Cemplok. Dia pun memarahi Gento. Dan demi keamanan pribadi, Gento lari dan melaporkan perlakukan pak denya ke Warok Surogento ayahnya.
Hasutan Gento membuat ayahnya kebakaran jenggot. Akhirnya peperangan pun terjadi. Kakak beradik, Warok Suromenggolo dan Warok Surogento beradu kesombongan, di saksikan Adipati Trenggalek, penguasa wilayah mereka.

Meski akhirnya Surogento mati di tangan kakaknya, penyelesaian tidak semudah dengan matinya salah satu pihak. Sebab ada pihak lain yang belum tentu terima de-ngan kematian Surogento.


Untuk memeriahkan hari jadi Kendal ke-403 pemkab melalui dewan kesenian Kendal menyelenggarakan karnaval. 20 kesenian dari perwakilan dari masing-masing kecamatan ditampilkan dihadapan puluhan ribu warga Kendal yang memadati jalan Soekarno-Hatta dari Kelurahan Langenharjo sampai Kecamatan Kendal sepanjang satu kilometer. Acara dihadiri Muspida Kendal dan sejumlah pejabat.
 
Ketua dewan kesenian Kendal Itos Budi Santoso mengatakan, 20 kesenian yang ditampilkan merupakan kesenian terbaik dimasing-masing kecamatan. Diantaranya, Tari, Dayakan, Barongan, Rampek Dawangan sanpai Kuda Lumping.
Menurut Itos, setelah star masing-masing kelompok kesenian diberi kesempatan memperagakan aksinya sekitar tiga menit dihadapan panggung kehormatan yang dihuni Muspida.
 
Setelah berjalan sampai finish atau sekitar satu kilometer masing-masing kelompok kesenian dibagi menjadi lima titik takyi di alun-alun bagian timur dan barat, di halaman GOR Bahurekso Kendal, di halaman Bappeda dan di halaman Pasar Kendal Permai.
 
Sementara Wakil Bupati Dra Hj Siti Nurmarkesi mengatakan, karnaval yang menampilkan 20 jenis kesenian itu menunjukkan Kendal kaya akan kesenian. Untuk memajukan pariwisata Kendal Wabup meminta dinas pariwisata menampilkan kesenian disejumlah lokasi wisata seperti Curug Sewu.''Kalau setiap minggu setiap kesenian dapat ditampilkan di obyek wisata, ini sangat positif sekaligus memberi wadah bagi pekalu seni,'' ujat Wabup.
 
Sementara saat ditanya untuk membangun sanggar keseian Wabup mengaku belum bisa mengagarkan kesana, namun pihaknya berjanji kalau kedepan APBD memungkin pihaknya siap membangun sanggar kesenian.''Yang pasti anggaran daerah kita gunakan untuk mensejahterakan masyarakat dulu,'' tegas Wabup (Newsroom Kendal - Yon)

 
 

Minggu, 21 September 2008






UPTD Dikpora Kecamatan Sukorejo mengirimkan duta seni dalam efen Pekan Seni Pelajar tingkat SD tahun 2008 yaitu Tari Wanara dan Bondan Kendi di lingkungan Pemda Kendal.

KUDA KEPANG





Salah satu Kesenian Tradisional yaitu Kuda Kepang dari Desa Ngargosari Kecamatan Sukorejo, tampil di SMA 1 Cepiring dalam rangka menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-63